D
ASSALAMU'ALAIKUM...SELAMAT DATANG DI BLOG SEDERHANA INI, SEMOGA BERMANFAAT...!!!!!
Tampilkan postingan dengan label sejarah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label sejarah. Tampilkan semua postingan

FAKTOR INTERN DAN EKSTERN RUNTUHNYA BANI UMAYYAH DI ANDALUSIA

PENDAHULUAN

Ketika Islam mengalami masa kemunduran sekitar abad ke-11 disebabkan berbagai macam permasalahan diantaranya adalah konfliknya umat Islam dengan umat Kristen yang tidak bisa diatasi lagi. Hal tersebut dimanfaatkan oleh Eropa. Eropa mulai bangkit dari keterbelakangan, kebangkitan tersebut bukan saja terlihat dalam bidang politik, dengan mengalahkan kerajaan-kerajan Islam dan bagian dunia yang lain. Tetapi terutama dalam bidang pengetahuan dan teknologi. Kemajuan Eropa saat ini tidak bisa dipisahkan dari pemerintahan Islam yang pernah jaya di Spanyol. Dari Spanyol Islamlah Eropa, itulah sedikit gambaran yang akan di bahas dalam makalah ini terkait sejarah Islam yakni runtuhnya Daulah Bani Umayyah di Andalusia yang dipengaruhi oleh dua faktor yaitu faktor intern dan ekstern.

PEMBAHASAN

Berawal dari berakhirnya kekuasaan umar II (717-720), suasana perpolitikan Dinasti Umayyah di Andalusia semakin memanas, seperti terjadinya sebagai masyarakat tidak mau membayat zakat, pemberontakan terjadi dimana-mana sampai pada masa kekhalifahan Yazid II dan Hisyam I. pada masa ini pula kaum Syiah mulai melancarkan serangan secara berlahan. ketika Hisyam naik tahta dalam usia sebelas tahun. Oleh karena itu kekuasaan aktual berada di tangan para pejabat. Pada tahun 981 M, Khalifah menunjuk Ibn Abi Amir sebagai pemegang kekuasaan secara mutlak. Dia seorang yang ambisius yang berhasil menancapkan kekuasaannya dan melebarkan wilayah kekuasaan Islam dengan menyingkirkan rekan-rekan dan saingan-saingannya
Hisyam (724-743) adalah khalifah yang kuat dan efektif, yang mampu mengembalikan kerajaan pada basis ekonomi yang lebih kuat, tetapi dia mencapai itu semua dengan menjadikan negaranya lebih cenderung pada sentralisasi dan kekkuasaaannya lebih otokratis. Ada beberapa hal yang menyebabkan runtuhnya Bani Umayyah di Spanyol di antaranya adalah faktor intern (dalam) dan ekstern (luar), berikut ini:
A. Faktor dari dalam (intern)
1. Tidak jelasnya sistem peralihan kekuasaan
Dalam hal ini menyebabkan terjadinya persaingan tidak sehat di antara kalangan keluarga istana. Yaitu perebutan kekuasaan di antara ahli waris. Dan Ketika kekhalifahan Hisyam ibn Hakam, timbulnya perselisihan di kalangan pejabat tinggi Negara dan orang istana, sehingga terpecah menjadi dua kelompok; kelompok militer yang didominasi oleh Slav dan kelompok sipil dengan tokohnya al-Hajib al-Mansur yang didukung oleh menterinya.
Oleh karena itu, mereka berpendapat bahwa kekhalifahan sebaiknya diserahkan kepada pamannya Hisyam, al-Mughirah ibn Abdurrahman al-Natsir. Sementara kelompok sipil mengharapkan kekhalifahan dipegang oleh Hisyam, agar kendali pemerintahan tetap dipegangn oleh para penguasa bersama khalifah Hisyam kecil itu. Dari perdebatan tersebut menyebabkan terbunuhnya al-Mughirah yang diduga pembunuhnya dari pihak sipil.
Granada yang merupakan pusat kekuasaan Islam terakhir di Spanyol jatuh ketangan Ferdinan dan Isabella, di antaranya juga disebabkan permasalahan ini. Dari perselisihan tersebut memberikan peluang bagi mereka untuk melancarkan serangan mereka.
2. Tidak adanya ideologi pemersatu
Dengan ini terjadi konflik politik, sehingga timbulnya kelompok oposisi. Persaingan terjadi antara Arab Utara dengan Arab Selatan, di samping itu pula timbulnya kerajaan kecil (Muluk al-Thawaif), mengakibatkan terjadi pemberontakan dimana-mana dan pengacauan politik. Kelompok tersebut mengadakan pemberontakan yang berdampak bagi stabilitas politik kekuasaan Bani Umayyah di Spanyol.
Kalau di tempat-tempat lain para muallaf diperlakukan sebagai orang Islam yang sederajat, di Spanyol, sebagaimana politik yang dijalankan Bani Umayyah di Damaskus, orang-orang Arab tidak pernah menerima orang-orang pribumi. Setidak-tidaknya sampai abad ke-10 M, mereka masih memberi istilah 'ibad dan muwalladun kepada para muallaf itu, suatu ungkapan yang dinilai merendahkan.
Akibat dari kelompok – kelompok etnis tersebut yang non-Arab yang ada sering menggerogoti dan merusak perdamaian. Hal itu mendatangkan dampak besar terhadap sejarah sosio-ekonomi negeri tersebut. Hal ini menunjukan tidak adanya ideologi yang dapat memberi makna persatuan, disamping kurangnya figur yang dapat menjadi personifikasi ideologi itu.
3. Para penguasa islam cukup puas dengan menerima upeti dan tidak melakukan islamisasi secara sempurna
Tidak hanya itu dilakukan pemerintahan tersebut akan tetapi ketika melakukan islamisasi membiarkan mereka mempertahankan hukum dan adat kebiasaan orang nasrani.
Akibatnya dengan kehadiran bangsa Arab menimbulkan rasa iri dan membangkitkan rasa kebangsaan bangsa spanyol yang Kristen. Berbagai usaha yang dilakukan oleh pihak yang tidak bertanggung jawab itu, untuk berupaya semaksimal mungkin untuk mengadu domba sesama muslim.
B. Faktor dari luar (ekstern)
1. Timbulnya semangat orang-orang Eropa untuk menguasai kembali Andalusia
Hal ini merupakan keinginan bangsa Eropa yang sudah lama terpendam, mereka ingin merebut kembali tanah air mereka dari tangan penguasa muslim. akan tetapi keinginan mereka masih belum terlaksana, karena islam pada waktu itu mempunyai kekuatan besar. Ketika kekuatan islam melemah, ini merupakan kesempatan emas bagi sekelompok komunitas yang tidak senang dengan kedatangan islam. Beberapa daerah belum dikuasai Islam
Berawal dari saat Thariq dan Musa ketika menaklukkan wilayah Andalusia karena ada perintah untuk segera pulang sehingga menyebabkan mereka tidak berhasil untuk menaklukkan daerah yang terletak di Barat Laut.
Penyebab keruntuhan dan kehancuran kekuasaan islam di Andalusia disebabkan ada beberapa daerah yang belum diduduki sepenuhnya waktu ekspansi islam seperti daerah Galicia. Daerah tersebut menjadi pusat Kristen. Yang kemudian berdirinya kerajaan Castile dan Aragon yang menjadi basisnya Kristen untuk menyerang kaum muslim dalam rangka menguasai wilayah kekuasaannya.
Daerah tersebut dijadikan benteng pertahanan, pelatihan dan sekolah siasat yang dipersiapkan untuk perlawanan dikemudian hari, dan dari benteng tersebut dikomando upaya untuk memecahkan belah persatuan dan kesatuan umat islam, bahkan sering menyerang saat ada kesempatan.
2. Konflik Islam dengan Kristen
Dalam pertempuran tersebut Ferdianan dan Isabella melibatkan diri bersama 5.000 peronil dengan mendengungkan perang suci.
Serangan ini dipelopori oleh raja Ferdinan dari Arogon dan Isabela dari Castila. Akibat konflik itu runtuhnya benteng Al-Hambra yang direbut oleh kristen. Dengan kemenangan mereka itu dari pihak Kristen merayakan kekalahan islam terakhir di spanyol The Deum, sebuah Hyne rasa syukur yang dinyanyikan di Cathedral St. Paul di London.
Granada saat itu semasa dinasti Nasr, yang dipimpin oleh Maula Ali Abi al-Hasan yang merasa cemas dengan kombinasi antara kerajaan Castile dan Aragon. Sehingga terjadilah perang dingin dengan kaum Nasrani.
al-Hasan sendiri wafat, diracun oleh anaknya, Abdullah dan kekuasaan dipegang saudaranya, al-Zaghlul (al-Zaghal)
Jatuhnya Granada ketangan Kristen, pendeta Kristen memberikan pilihan kepada umat muslim dan Yahudi, yakni pindah agama atau tinggal di wilayah itu. Dengan demikian “salib telah menyingkirkan bulan sabit”. Artinya adalah kekuasaan islam telah dikalahkan oleh kekuasan Kristen.



3. Kesulitan ekonomi
Masa-masa runtuhnya Bani Umayyah ini, disebabkan para penguasa lebih mementingkan pembangunan, sehingga lalai membinaan perekonominan. Di samping itu pula diakibatkan oleh etnis-etnis non –Arab sering menjadi perusak dan menggrogoti perdamaian, sehingga mempengaruhi terhadap kondisi perekonomian.
Akibat dari pembangunan bidang fisik untuk keindahan kota dan peningkatan ilmu pengetahuan yang terlalu serius telah melalaikan pembangunan bidang perekonomian yang menjadi pendukung perekonomian persatuan dan kesatuan. Akibatnya perekonomian yang lemah itu, juga menyebabkan kondisi politik dan militer tak menentu.


KESIMPULAN

Demikian dua faktor yang mempengaruhi runtuhnya Daulah Bani Umayyah yang dapat kami paparkan, bahwasanya konflik internal yang berujung perebutan kekuasaan terjadi di antara para pemimpin muslim. Umat Islam menjadi lemah. Akhirnya, Raja Ferninand dan isterinya Ratu Isabella berhasil menaklukkan kekuasaan Islam setelah Granada, benteng terakhir kaum muslimin di Andalusia, jatuh ke tangan bangsa Eropa yang kafir. Daulah Umayyah II juga mengalami keruntuhan akibat perebutan kekuasaan.
Meskipun penyebab terburuknya adalah serangan kaum Kristen, namun kondisi umat.Islam di Andalusia saat itu sedang melemah sedangkan kondisi umat Kristen berada dalam kemajuan yang pesat.
Mengakhirnya makalah ini kami tutup dengan sebuah ungkapan seorang sejarawan ia menyatakan “ orang muslim yang menyinari bangsa Goth di Spanyol selama berabad-abad yang membawa kemajuan yang luar biasa, kini tenggelam dalam kegelapan setelah mereka mengusir islam secara total, bagaikan angsa yang selama ini menelorkan emas, dibunuh, maka berhenti telor emas. Yang dimaksud adalah kejayaan, kemajuan, peradaban, dan pembangaunan moril dan materi……. Islam memberi status eropa yang gelap menjadi maju, setelah islam lenyap bersama itu kemajuan dan pencerahan tenggelam pula dalam kegelapan. ”

DAFTAR PUSTAKA

Amstrong, Karen. 2002. Islam: A Short History; Sepintas Sejarah Islam. Surabaya. Ikon Teralitera.
Karim, M. Abdul. 2007. Sejarah Pemikiran Dan Peradaban Islam. Yogyakarta: Pustaka Book Publisher.
S, Ahmad Akbar. 2002. Rekonstruki Sejarah Islam. Yogyakarta: Fajar Pustaka Baru.
Yatim, badri. 2004. Sejarah Peradaban Islam. Jakarta: PT Grafindo Persada
http://zanikhan.multiply.com/journal/item/1630
http://id.wikipedia.org/wiki/Bani_Umayyah#6.Penyebab_Kemunduran_dan_Kehancuran

Selengkapnya...

TURKI USMANI (1288-1923 M / 1299–1923 M)

A. Latar Belakang
Pendiri kerajaan ini adalah bangsa Turki dari Kabilah Oghuz / Ughuj yang mendiami daerah Mongol dan daerah Utara Negeri Cina. Pada Abad ke-13 M, saat Chengis Khan mengusir orang-orang Turki dari Khurasan dan sekitarnya. Kakenya Usman, yang bernama Sulaiman bersama pengikutnya bermukim di Asia kecil. Dari perjalanan tersebut Sulaiman, ia tenggelam ketika menyemberangi sungai Efrat (dekat Allepo). Sulaiman mempunyai empat saudara yang bernama, Shunkur, Gundogdur, al-Thugril, dan Dundar. Dua puteranya kembali ke tanah air mereka. Sementara yang kedua terakhir bermukim di Asia kecil. Di sana mereka di bawah pimpinan Sultan Alauddin di Kunia. Saat Mongol menyerang sultan Alauddin di Anggara (kini Angkara), al-Thugril membantu mengusir Mongol, sehingga berkat jasanya itu, Alauddin memberikan daerah Iski Shahr dan sekitarnya. Al-Thugril, mendirikan ibukota bernama Sungut, di sana lahir anak pertama bernama Usman pad 1258 M. Al-Thugril meninggal pada 1288 M. dan ia mendeklarasikan dirinya sebagai Sultan, maka sejak itulah berdiri Dinasti Turki Usman.

B. Silsilah Keturunan / Kekuasaan
Sultan Alauddin meninggal pada 1300 M / 699 H, maka Usman mengumumkan diri sebagai Sultan yang berdaulat penuh. Namun tidak langung diakui oleh banyak orang. Pada masa Usman hanya memiliki wilayah yang sangat kecil, ia meninggal pada 1326 M. kemudian puteranya naik tahta yang bernama Orkhan (Urkhun) pada usia 42 tahun. Pada masanya ia membentuk tiga pasukan utama, tentara Siphai (tentara reguler), tentara Hazeb (tentara ireguler), tentara Jenisari (pasukan direkrut pada usia dua belas tahun). Selanjutnya kekuasaan beralih kepada puteranya Murad I, yang telah berhasil menaklukan, Adrianopol, Masedonia, Bulgaria, Serbia, Kosovo dan Asia kecil. Murad I bergelar Alexander abad pertengahan. Murad digantikan oleh puteranya Bayazid I, yang bergelar Ildrim (kilat), terjadi
Pertempuran dengan tentara Mongol yang dipimpin oleh Timur Lenk, sehingga Bayazid I bersama puteranya Musa tertawan dan wafat dalam tawanan tahun 1403 M. Pada masa ini Turki Usmani mulai mengalami kemunduran. Kemudian dilanjutkan oleh Muhammad, ia berhasil memulihkan kondisi menjadi stabil sehingga para sejarawan mensejajarkan dia dengan Umar II dari Dinasti Umayyah. Setelah ia meninggal digantikan oleh Murad II (1421-1451 M),, ia mengembalikan cintra Murad I, yaitu dengan merebut kembali daerah-daerah Eropa (Kosovo). Ia banyak mendirikan Masjid dan Sekolah. Penggatinya adalah Muhammad II (1451-1484M), dengan gelar Al-Fatih, ia telah berhasila menaklukkan kota Konstantinopel pada 25 Mei 1453. Dan juga ia menaklukkan Venish, Italy, Rhodos, dan Cremia yang terkenal denan Konstantinopel II. ia menerapkan UU islam dalam qanun namah. Setelaha abad ke-16 M atauran ini dilonggarkan. Al-fatih meninggal, digantikan anaknya Bayazid II, kemudian digantikan oleh anaknya Salim I, ia sangat kejam, dalam sejarah Eropa dikenal sebagai Salim the Grim. Ia menaklukkan Asia Kecil, Persia, Kaldiran, dan Mesir. Dan juga berhasil menaklukkan Sultan Mamluk (1517 M). ia memindahkan Khalifah boneka Bani Abbas ke Konstantinopel yang bernama Ahmad dan mengambil gelar secara sakral yang kemudian digunakan oleh sultan Turki, Salim I, sehingga kota tersebut berubah menjadi Istambul. Selanjutnya digantikan oleh Sulaiman Agung (1520-1566), mendapat julukan Sulaiman al-Qanuni, pada masanya disusun sebuah kitab undang-undang (qanun), Kitab tersebut diberi nama Multaqa al-Abhur dan berhasil membawa kejayaan islam, dan ia pula berhasil menterjemahkan Al-Qur’an dalam bahasa Turki. Sulaiman jug berhasil menundukkan Irak, Belgrado, Pulau Rodhes, Tunis, Budapest, dan Yaman. Dengan demikian, luas wilayah Turki Usmani pada masanya mencakup Asia Kecil, Armenia, Irak, Siria, Hejaz, dan Yaman di Asia; Mesir, Libia, Tunis, dan Aljazair di Afrika; Bulgaria,Yunani, Yugoslavia, Albania, Hongaria, dan Rumania di Eropa.
Sulaiman al-Qanuni diganti oleh Salim II (1566-1573 M), Di masa pemerintahannya terjadi pertempuran antara armada laut Kerajaan Usmani dengan armada laut Kristen yang terdiri dari angkatan laut Spanyol, angkatan laut Bundukia, angkatan laut Sri Paus, dan sebagian kapal para pendeta Malta yang dipimpin Don Juan dari Spanyol. Pertempuran itu terjadi di Selat Liponto (Yunani). Dalam pertempuran ini Turki Usmani mengalami kekalahan yang mengakibatkan Tunisia dapat direbut oleh musuh.
Selanjunya digantikan oleh Sultan Murad III (1574-1595 M) berkepribadian jelek dan suka memperturutkan hawa nafsunya, namun Kerajaan Usmani pada masanya berhasil menyerbu Kaukasus dan menguasai Tiflis di Laut Hitam (1577 M), merampas kembali Tabnz, ibu kota Safawi, menundukkan Georgia, mencampuri urusan dalam negeri Polandia, dan mengalahkan gubernur Bosnia pada tahun 1593 M. Namun kehidupan moral Sultan yangjelek menyebabkan timbulnya kekacauan dalam negeri.
Kekacauan ini makin menjadi-jadi dengan tampilnya Sultan Muhammad III (1595-1603M), pengganti Murad III, yang membunuh semua saudara laki-lakinya berjumlah 19 orang dan menenggelamkan janda-janda ayahnya sejumlah 10 orang demi kepentingan pribadi. Dalam situasi yang kurang baik itu, Austria berhasil memukul Kerajaan Usmani.
Sultan Ahmad I (1603-1617 M), pengganti Muhammad III, sempat bangkit untuk memperbaiki situasi dalam negeri, tetapi kejayaan Kerajaan Usmani di mata bangsa-bangsa Eropa sudah mulai memudar.
Sesudah Sultan Ahmad I ( 1603-1617 M), situasi semakin memburuk dengan naiknya Mustafa I (masa pemerintahannya yang pertama (1617-1618 M) dan kedua, (1622-1623 M). Karena gejolak politik dalam negeri tidak bisa diatasinya, Syaikh al-Islam mengeluarkan fatwa agar ia turun dari tahta dan diganti oleh Usman II (1618-1622 M). Namun yang tersebut terakhir ini juga tidak mampu memperbaiki keadaan. Dalam situasi demikian bangsa Persia bangkit mengadakan perlawanan merebut wilayahnya kembali. Kerajaan Usmani sendiri tidak mampu berbuat banyak dan terpaksa melepaskan wilayah Persia tersebut.
Langkah-langkah perbaikan kerajaan mulai diusahakan oleh Sultan Murad IV (1623 – 1640 M). Pertama-tama ia mencoba menyusun dan menertibkan pemerintahan. Pasukan Jenissari’ yang pernah menumbangkan Usman II dapat dikuasainya. Akan tetapi, masa pemerintahannya berakhir sebelum ia berhasil menjernihkan situasi negara secara keseluruhan. Situasi politik yang sudah mulai membaik itu kembali merosot pada masa pemerintahan Ibrahim I (1640-1648 M), karena ia termasuk orang yang lemah. Pada masanya ini orang-orang Venetia melakukan peperangan laut melawan dan berhasil mengusir orang-orang Turki Usmani dari Cyprus dan Creta tahun 1645 M. Kekalahan itu membawa Muhammad Koprulu (berasal dari Kopru dekat Amasia di Asia Kecil) ke kedudukan sebagai wazir atau shadr al-a’zham (perdana menteri) yang diberi kekuasaan absolut. Ia berhasil mengembalikan peraturan dan mengkonsolidasikan stabilitas keuangan negara. Setelah Koprulu meninggal (1661 M), jabatannya dipegang oleh anaknya, Ibrahim.
Ibrahim menyangka bahwa kekuatan militernya sudah pulih sama sekali. Karena itu, ia menyerbu Hongaria dan mengancam Vienna. Namun, perhitungan Ibrahim meleset, ia kalah dalam pertempuran itu secara berturut-turut. Pada masa-masa selanjutnya wilayah Turki Usmani yang luas itu sedikit demi sedikit terlepas dari kekuasaannya, direbut oleh negara-negara Eropa yang baru mulai bangun. Pada tahun 1699M terjadi “Perjanjian Karlowith” yang memaksa Sultan untuk menyerahkan seluruh Hongaria, sebagian besar Slovenia dan Croasia kepada Hapsburg; dan Hemenietz, Padolia, Ukraina, Morea, dan sebagian Dalmatia kepada orang-orang Venetia.
Pada tahun 1770 M, tentara Rusia mengalahkan armada Kerajaan Usmani di sepanjang pantai Asia Kecil. Akan tetapi, tentara Rusia ini dapat dikalahkan kembali oleh Sultan Mustafa III (1757-1774 M) yang segera dapat mengkonsolidasi kekuatannya.
Sultan Mustafa III diganti oleh saudaranya, Sultan Abd al-Hamid (1774-1789 M), seorang yang lemah. Tidak lama setelah naik tahta, di Kutchuk Kinarja ia mengadakan perjanjian yang dinamakan “Perjanjian Kinarja” dengan Catherine II dari Rusia. Isi perjanjian itu antara lain:
1. Kerajaan Usmani harus menyerahkan benteng-benteng yang berada di Laut Hitam kepada Rusia dan memberi izin kepada armada Rusia untuk melintasi selat yang menghubungkan Laut Hitam dengan LautPutih, dan
2. Kerajaan Usmani mengakui kemerdekaan Kirman (Crimea).
Demikianlah proses kemunduran yang terjadi di Kerajaan Usmani selama dua abad lebih setelah ditinggal Sultan Sulaiman al-Qanuni. Satu persatu negeri-negeri di Eropa yang pernah dikuasai kerajaan ini memerdekakan diri. Bukan hanya negeri-negeri di Eropa yang memang sedang mengalami kemajuan yang memberontak terhadap kekuasaan Kerajaan Usmani, tetapi juga beberapa daerah di Timur Tengah mencoba bangkit memberontak.
Di Mesir, kelemahan-kelemanan Kerajaan Usmani membuat Mamalik bangkit kembali. Di bawah kepemimpinan Ali Bey, pada tahun 1770 M, Mamalik kembali berkuasa di Mesir, sampai datangnyaNapoleon Bonaparte dari Perancis tahun 1798 M.
Di Libanon dan Syria, Fakhral-Din, seorang pemimpin Dntze, berhasil menguasai Palestina, dan pada tahun 1610 M merampas Ba’albak dan mengancam Damaskus. Fakhr al-Din baru menyerah tahun 1635 M. Di Persia, Kerajaan Safawi ketika masih jaya beberapa kali mengadakan perlawanan terhadap Kerajaan Usmani dan beberapa kali pula ia keluar sebagai pemenang.
Sementara itu, di Arabia bangkit kekuatan baru, yaitu aliansi antara pemimpin agama Muhammad ibn Abd al-Wahhab yang dikenal dengan gerakan Wahhabiyah dengan penguasa lokal Ibn Sa’ud. Mereka berhasil menguasai beberapa daerah di jazirah Arab dan sekitarnya di awal paroh kedua abad ke-18 M.
Pemberontakan-pemberontakan yang terjadi di Kerajaan Usmani ketika sedang mengalami kemunduran. Gerakan-gerakan seperti itu terus berlanjut hingga abad ke-19 dan ke-20 M.
Peta Turki saat ini di tahun 2008,
• Osman I (1281-1326; bey)
• Orhan I (1326-1359; bey)
• Murad I (1359-1389; sultan sejak 1383)
• Beyazid I (1389-1402)
• Interregnum (1402-1413)
• Mehmed I (1413-1421)
• Murad II (1421-1444) (1445-1451)
• Mehmed II (sang Penguasa) (1444-1445) (1451-1481)
• Beyazid II (1481-1512)
• Selim I (1512-1520)
• Suleiman I (yang Agung) (1520-1566)
• Selim II (1566-1574)
• Murad III (1574-1595)
• Mehmed III (1595-1603)
• Ahmed I (1603-1617)
• Mustafa I (1617-1618)
• Osman II (1618-1622)
• Mustafa I (1622-1623)
• Murad IV (1623-1640)
• Ibrahim I (1640-1648)
• Mehmed IV (1648-1687)
• Suleiman II (1687-1691)
• Ahmed II (1691-1695)
• Mustafa II (1695-1703)
• Ahmed III (1703-1730)
• Mahmud I (1730-1754)
• Osman III (1754-1757)
• Mustafa III (1757-1774)
• Abd-ul-Hamid I (1774-1789)
• Selim III (1789-1807)
• Mustafa IV (1807-1808)
• Mahmud II (1808-1839)
• Abd-ul-Mejid I (1839-1861)
• Abd-ul-Aziz (1861-1876)
• Murad V (1876)
• Abd-ul-Hamid II (1876-1909)
• Mehmed V (Reşad) (1909-1918)
• Mehmed VI (Vahideddin) (1918-1922)
• Abd-ul-Mejid II, (1922-1924; hanya sebagai Kalifah)
C. Kemajuan / Kejayaan Masa Turki Usmani
Selama kejayaan dinasti ini ada beberapa yang telah berhasil namun diperiode selanjutnya daerah-daerah yang telah dikuasi kembali direbut oleh pihak yang ingin menguasai Turki Usmani, adapun keberhasilan pada masa Sultan Sulaiman I disusun sebuah kitab undang-undang (qanun). Kitab tersebut diberi nama Multaqa al-Abhur, yang menjadi pegangan hukum bagi kerajaan Turki Usmani sampai datangnya reformasi pada abad ke-19. Karena jasa Sultan Sulaiman I yang amat berharga ini, di ujung namanya ditambah gelar al-Qanuni.
Pada masa Sulaiman kota-kota besar dan kota-kota lainnya banyak dibangun nmesjid, sekolah, rumah sakit, gedung, makam, jembatan, saluran air, villa, dan pemandian umum. Disebutkan bahwa buah dari bangunan itu dibangun di bawah koordinator Sinan, seorang arsitek asal Anatolia.
Sebagai bangsa yang berdarah militer, Turki Usmani lebih banyak memfokuskan kegiatan mereka dalam bidang kemiliteran, sementara dalam bidang ilmu pengetahuan, mereka kelihatan tidak begitu menonjol.
Bangsa Turki juga banyak berkiprah dalam pengembangan seni arsitektur Islam berupa bangunan-bangunan mesjid yang indah, seperti Masjid Al-Muhammadi atau Mesjid Jami’ Sultan Muhammad Al-fatih, Mesjid Agung Sulaiman dan Mesjid Abi Ayyub al-Anshari.Mesjid-mesjidtersebut dihiasi pula dengan kaligrafi yang indah. Salah satu mesjid yang terkenal dengan keindahan kaligrafinya adalah mesjid yang asalnya gereja Aya Sopia. Hiasan kaligrafi itu, dijadikan penutup gambar-gambar Kristiani yang ada sebelumnya.
Pada masa Turki Usmani tarekat mengalami kemajuan. Tarekat yang paling berkembang ialah tarekat Bektasyi dan Tarekat Maulawi. Kedua tarekat ini banyak dianut oleh kalangan sipil dan militer. Di pihak lain, kajian-kajian ilmu keagamaan, Asy’ariyah mendapatkan tempatnya. Selain itu para ulama banyak menulis buku dalam bentuk syarah (penjelasan) dan hasyiyah (semacam catatan) terhadap karya¬karya masa klasik.
D. Faktor Runtuhnya Turki Usmani
Ada 2 faktor yang membuat khilafah Turki Utsmani mundur:
1. Intern
• Buruknya pemahaman Islam
Lemahnya pemahaman Islam membuat reformasi gagal. Sebab saat itu khilafah tak bisa membedakan IPTEK dengan peradaban dan pemikiran. Ini membuat munculnya struktur baru dalam negara, yakni perdana menteri, yang tak dikenal sejarah Islam kecuali setelah terpengaruh demokrasi Barat yang mulai merasuk ke tubuh khilafah. Saat itu, penguasa dan syaikhul Islam mulai terbuka terhadap demokrasi lewat fatwa syaikhul Islam yang kontroversi. Malah, setelah terbentuk Dewan Tanzimat (1839 M) semakin kokohlah pemikiran Barat, setelah disusunnya beberapa UU, seperti UU Acara Pidana (1840), dan UU Dagang (1850), tambah rumusan Konstitusi 1876 oleh Gerakan Turki Muda, yang berusaha membatasi fungsi dan kewenangan kholifah.
• Salah menerapkan Islam.
Dengan diambilnya UU oleh Suleiman II, seharusnya penyimpangan dalam pengangkatan kholifah bisa dihindari, tapi ini tak tersentuh UU. Dampaknya, setelah berakhirnya kekuasaan Suleimanul Qonun, yang jadi khalifah malah orang lemah, seperti Sultan Mustafa I (1617), Osman II (1617-1621), Murad IV (1622-1640), Ibrohim bin Ahmed (1639-1648), Mehmed IV (1648-1687), Suleiman II (1687-1690), Ahmed II (1690-1694), Mustafa II (1694-1703), Ahmed III (1703-1730), Mahmud I (1730-1754), Osman III (1754-1787), Mustafa III (1757-1773), dan Abdul Hamid I (1773-1788). Inilah yang membuat militer, Yennisari-yang dibentuk Sultan Ourkhan-saat itu memberontak (1525, 1632, 1727, dan 1826), sehingga mereka dibubarkan (1785). Selain itu, majemuknya rakyat dari segi agama, etnik dan mazhab perlu penguasa berintelektual kuat. Sehingga, para pemimpin lemah ini memicu pemberontakan kaum Druz yang dipimpin Fakhruddin bin al-Ma'ni
Dengan tak dijalankannya politik luar negeri yang Islami-dakwah dan jihad-pemahaman jihad sebagai cara mengemban ideologi Islam ke luar negeri hilang dari benak muslimin dan kholifah. Ini terlihat saat Sultan Abdul Hamid I/Sultan Abdul Hamid Khan meminta Syekh al-Azhar membaca Shohihul Bukhori di al-Azhar agar Allah SWT memenangkannya atas Rusia (1788). Sultanpun meminta Gubernur Mesir saat itu agar memilih 10 ulama dari seluruh mazhab membaca kitab itu tiap hari Menghadapi kemerosotan itu, khilafah telah melakukan reformasi (abad ke-17, dst).
2. Eksten
• Penjajahan Barat membawa semangat gold, glory, dan gospel
Sejak jatuhnya Konstantinopel di abad 15, Eropa-Kristen melihatnya sebagai awal Masalah Ketimuran, sampai abad 16 saat penaklukan Balkan, seperti Bosnia, Albania, Yunani dan kepulauan Ionia. Ini membuat Paus Paulus V (1566-1572) menyatukan Eropa yang dilanda perang antar agama-sesama Kristen, yakni Protestan dan Katolik. Konflik ini berakhir setelah adanya Konferensi Westafalia (1667). Saat itu, penaklukan khilafah terhenti. Memang setelah kalahnya khilafah atas Eropa dalam perang Lepanto (1571), khilafah hanya mempertahankan wilayahnya. Ini dimanfaatkan Austria dan Venezia untuk memukul khilafah. Pada Perjanjian Carlowitz (1699), wilayah Hongaria, Slovenia, Kroasia, Hemenietz, Padolia, Ukraina, Morea, dan sebagian Dalmatia lepas; masing-masing ke tangan Venezia dan Habsburg. Malah khilafah harus kehilangan wilayahnya di Eropa pada Perang Krim (abad ke-19), dan tambah tragis setelah Perjanjian San Stefano (1878) dan Berlin (1887).
Selengkapnya...

Gerakana Revivalisme "Ikhwanul Muslimin"

A. Latar Belakang Ikhwanul Muslimin
Bermula pada runtuhnya Khilafah Islamiyah di Turki menyebabkan dunia Islam hidup dalam kegelapan dengan timbulnya berbagai gerakan sekularisme maupun gerakan nasionalisme yang mempengaruhi Negara Islam terutama di Mesir. Berbagai bentuk kerusakan moral yang terjadi saat itu antaranya “ Pergerakan Emanspasi Wanita semakin bertambah kuat, para wanita kelas atas Mesir memberontak; enggan memakai purdah. Mereka justru memakai fasion ala Eropa, menghadiri tamasya sosial yang bercampur bebas antara lelaki dan perempuan, baik secara tertutup ataupun terbuka. Mereka juga mendesak supaya wanita diberi hak yang setaraf dengan lelaki.”
Ikhwanul Muslimim berasal dari kata Arab:الاخوان المسلمون al-ikhwān al-muslimūn sering hanya disebut al-Ikhwan adalah salah satu jamaah dari umat Islam, mengajak dan menuntut ditegakkannya syariat Allah, hidup di bawah naungan Islam, seperti yang diturunkan Allah kepada Rasulullah saw, dan diserukan oleh para salafush-shalih, bekerja dengannya dan untuknya, keyakinan yang bersih menghujam dalam sanubari, pemahaman yang benar yang merasuk dalam akal dan fikrah, syariah yang mengatur al-jawarih (anggota tubuh), perilaku dan politik. Ikhwanul Muslimin (IM) didirikan oleh Hasan al-Banna di Ismailiah pada bulan Zulkaidah 1346 H /Maret 1928 M yang di pada kesempatan tersebut terdapat enam tokoh yang tertarik dengan kepribadian dan terkesan pada pola-pola dakwah beliau, mereka adalah Hafidz Abdul Hamid, Ahmad al-Hushary, Fuad Ibrahim, Ismael Izz, zaki al-maghriby serta Abdurrahman Hasbullah.
Proses perkembangan IM di Ismailiah selama empat tahun yang menembus kota di sekitarnya, beberapa faktor yang menyebabkan perkembangan penyebaran dakwah IM menurut Ali Abdullah Halim Mahmud adalah:
1. Mereka ikhlas melaksanakan misi dakwah
2. Mereka memiliki kapasitas pemahaman yang menyeluruh terhadap ajaran islam
3. Pengetahuan mereka sangat luas tidak hanya pengetahuan Agama, tetapi juga pengetahuan umum juga
4. Mereka dalam melakukan aktivitas dengan semangat kebersamaan dan ukhuwah
5. Mereka pula paham tentang kehidupan sosial politik
6. Sistem kehidupan yang mereka terapkan dengan mempraktikkan tata nilai Islami, serta akhlakul karimah
7. Mereka memiliki sikap tegas terhadap politik penjajah


B. Hasan al-Banna dan Ikhwanul
Ikhwanul Muslimin dan Hasan al-Banna tidak dapat dipisahkan gerakan ini sangat berpengaruh, tidak hanya di Mesir akan tetapi menyebar ke seluruh dunia. Siapa sosok Hasan al-Banna?
Hasan al-Banna adalah Imam Syahid Hasan bin Ahmad bin Abdurrahman al-Banna lahir pada tahun 1906 di kota Mahmudiyah, sebuah kawasan dekat Iskandariyah. Adapun Hasan al-Banna memilki 6 saudara yaitu empat lelaki dan dua perempuan, Hasan al-Banna (yang sulung), Abdur-Rahman Al-Banna, Fatimah al-Banna, Muhammad al-Banna, Abdul Basit al-Banna, Jamal al-Banna dan Fauziah al-Banna. Dan ayahnya Syeikh Ahmad Al-Banna mempunyai seorang lagi isteri. Dengan isteri kedua ini, dia memperolehi seorang anak perempuan yang bernama Faridah al-Banna.
Imam Hasan al-Banna memulai pendidikannya di Madrasah Diniyah “ar-Rasyad” yang yang dipimpin oleh Syaikh Muhamad Zahran Rahimahullah. Kemudian ia pindah ke Madrasah I’dadiyah atas permintaan ayahnya yang gurunya antara lain Muhammad Afandi Abdul Khaliq Rahimahullah. Karena sistem Madrasah I’diyah diganti dengan Madrasah Ibtida’iyah, Hasan al-Banna melanjutkan ke Madrasah al-Mu’allimin al-Awwaliyah di Damanhur, untuk menjadi seorang guru. Setelah tamat kemudian beliau melanjutkan ke Darul ‘Ulum al-Ulya’ dan tamat pada tahun 1927 yang menyandang cumlaude.
Bahwasanya Imam Hasan al-Banna menjalani kehidupan yang penuh tantangan semenjak kecil sehingga beliau menemui ajalnya. Keseluruhan hidupnya ditumpukan kepada perjuangan Islam dan kebajikan orang-orang Islam. Beliau khusyu’ beribadat kepada Allah dan selalu mengkaji al-Quran serta Hadith. Tokoh Islam yang hebat ini mati syahid ditembak pada 12hb Februari, 1949 di Kaherah. Umurnya ketika itu ialah 43 tahun.
C. Konsep Pemikiran Ikhwanul Muslimin
Dalam kitab Risalah Ta’lim bahwa Hasan al-Banna (Imam Asy-Syahid) menyatakan ada dua konsep yang ditawarkannya kepada pribadi muslim, yaitu:
1. Rukun-rukun bai’at
Imam asy-Syahid menyatakan bai’at tersebut merupakan bai’at antara seorang prajurit dan panglimanya, karenanya di baris awal risalam ini tertulis kata-kata:” Rukun bai’at kita ada sepuluh, peliharalah!.” Adapun pertama kali Ikhwanul Muslimin berbai’at pada tanggal 5 Rabi’ul Awal 1359 H. Adapun sepuluh rukun bai’at (Muhammad Abdul Halim Hamid,2004:21-193) tersebut yaitu:


a. Al-Fahm
Hasan al-Banna berkata “ yang saya maksud ¬al-Fahm adalah hendaknya Anda yakin bahwa kita adalah fikrah islamiyah yang murni, dan Anda memahmi Islam sebagaimana kami memahaminya dalam batas-batas ushul ‘isyrin (20 prinsip) yang sangat ringkas ini”
b. Al-Ikhlas
Adalah bahwa seorang al-akh hendaknya mengorientasikan perkataan, perbuatan, dan jihadnya hanya kepada Allah mengharap keridhaan-Nya, tanap memperhatikan keuntungan materi, prestise, pangkat, gelar, kemajuan atau kemunduran. Dengan itulah ia menjadi tentara akidah, bukan tentara kepentingan dan hanya mencari kemanfaatan dunia.
c. Al-Amal
Sebagaimana dalam surah at-Taubah:105, Allah swt berfirman:
“Dan Katakanlah: "Bekerjalah kamu, Maka Allah dan rasul-Nya serta orang-orang mukmin akan melihat pekerjaanmu itu, dan kamu akan dikembalikan kepada (Allah) yang mengetahui akan yang ghaib dan yang nyata, lalu diberitakan-Nya kepada kamu apa yang Telah kamu kerjakan.”
Berkata Imam asy-Syahid menjelaskan nilai sebuah amal, adalah bahwa amal merupakan buah dari ilmu dan keikhlasan. Sebuah ilmu tetap akan menjadi cacat dan sangat dangkal, bila tidak dapat mendorong pemiliknya untuk melakukan amal yang positif dan konstruktif.
d. Al-Jihad
Imam as-Syahid berkata al-Jihad adalah “ sebuah kewajiban yang terus berlaku sampai hari kiamat. Inilah yang dimaksud oleh Rasulullah saw,’ Barang siapa mati, sementara ia belum pernah perang dan belum berniat perang, maka ia mati seperti matinya jahiliyah.’
e. At-Tadhiyah
Adalah mengorbankan jiwa, harta, waktu, kehidupan, dan segala-galanya demi mencapai tujuan.
f. Ath-Tha’ah
Melaksanakan perintah dan merealisir dengan serta merta, baik dalam keadaan sulit maupun mudah, saat bersemangat maupun malas. Yang demikian itu karena tahapan dakwah ini ada tiga: ta’rif (pengenalan), takwin (pembentukan), dan tanfidz (pelaksanaan).
g. Ats-Tsabat
Bahwa hendakya seorang al-Akh senantiasa bekerja sebagai mujahid dalam memperjuangkan tujuannya, betapa pun jauh jangkauan dan lama waktunya, samapi bertemu dengan Allah dalam keadaan seperti itu, ia akan mendapatkan salah satu dari dua kebaikan, yaitu (mencapai tujuan) hidup mulia atau mati syahid.
h. At-Tajarrud
Imam as-Syahid berkata yang saya maksud at-Tajarrud adalah kemurnian atau totalitas, bahwa engkau harus tulus pada fikrahmu dan membersihkannya dari prinsip-prinsip lain serta pengaruh orang lain. Sebab ia adalah setinggi-tinggi dan selengkap-lengkap fikrah.
i. Al-Ukhuwah
Bahwa hendaknya berbagai hati dan ruh berpadu dengan ikatan akidah. Akidah adalah ikatan yang paling kokoh dan paling mahal. Ukhuwah merupakan wujud dari keimanan, sedang perpecahan adlah wujud dari kekufuran. Kekuatan yang pertama adalah persatuan, tiada persatuan tanpa cinta kasih, sedangkan cinta kasih yang paling lemah adalah lapang dada dan puncaknya adalah itsar (mengutamakan orang lain dari pada diri sendiri).
j. Ats-Tsiqah
Rasa puasnya seorang jundi (prajurit) atas qa’id (pimpinannya) dalam hal kemampuan dan keikhlasannya, dengan kepuasan mendalam yang dapat menumbuhkan rasa cinta, penghargaan, penghormatan dan ketaatan.

2. Kewajiban individu aktivis
Prinsip ini diberikan oleh Imam asy-Syahid kepada putera-putera Islam yang memiliki ghirah (semangat) terhadap Islam. Kewajiban itu harus dilaksanakan sehingga seorang muslim dapat merasakan manisnya dakwah dan lezatnya tujuan dakwah prinsip tersebut adalah:
• Allahu Ghayatuna (Allah tujuan kami)
• Ar-Rasulu Qudwatuna (Rasul teladan kami)
• Al-Qur’an Syir’atuna (al-Qur’an syariat kami)
• Al-Jihad Sabiluna (Jihad jalam kami)
• Asy-Syahadatu Umniyatuna (mati syahid cita-cita tertinggi kami)
D. Karakteristik Dakwah Ikhwanul Muslimin
Terbentuknya gerakan ini telah memberikan perubahan baru, sebagai dampak dari situasi seperti ini, maka dakwah IM memiliki berbagai karakteristik yang berbeda dengan gerakan-gerakan dakwah yang lain di zamannya, antaranya:
1. Menjauhkan titik khilafiyah
2. Menjauhi dominasi tokoh dan pembesar
3. Menjauhi fanatisme partai-partai dan golongan-golongan
4. Memperhatikan masalah takwin (pembentukan kepribadian), dan tadararju (bertahap) dalam langkahnya
5. Mengutamakan sisi amaliah yang produktif di atas seruan-seruan dan propaganda-propaganda kosong
6. Sangat menaruh perhatian pada pemuda, dan
7. Cepat berkembang di pedesaan dan perkotaan
E. Pimpinan dalam Ikhwanul Muslimin
Pimpinan Ikhwanul Muslimin disebut Mursyid 'Am atau Sekretaris Jenderal. Adapun tugas dari Mursyid 'Am adalah untuk mengatur organisasi Ikhwanul Muslimin di seluruh dunia. Berikut ini adalah daftar Mursyid 'Am yang pernah memimpin Ikhwanul Muslimin:
1. Hassan al-Banna
2. Hassan al-Hudhaibi
3. Umar at-Tilmisani
4. Muhammad Hamid Abu Nasr
5. Mustafa Masyhur
6. Ma'mun al-Hudhaibi
7. Muhammad Mahdi 'Akif
F. Ikhwanul Muslimin di Indonesia
Ikhwanul Muslimin masuk ke Indonesia melalui jamaah haji dan kaum pendatang Arab sekitar tahun 1930. Pada zaman kemerdekaan, Agus Salim pergi ke Mesir dan mencari dukungan kemerdekaan. Waktu itu, Agus Salim menyempatkan untuk bertemu kepada sejumlah delegasi Indonesia, termasuk Agus Salim.
Tahun 1970-an adalah momen munculnya semangat kebangkitan Islam di hampir seluruh dunia Muslim. Bahwa di Indonesia bentuk revivalisme gerakan yang terjadi adalah adanya transmisi dari pemikiran Ikhwanul Muslimin seperti gerakan Tarbiyah.
Mengenai proses penyerapan para aktivis Tarbiyah di Indonesia terhadap pemikiran IM ada dua penjelasan:
1. Bahwa pemikiran Ikhwanul Muslimin terjadi melalui Imaduddin Abdurahim. Ia memperkenalkan Pemikiran IM dalam forum-forum jaringan dakwah kampus.
2. Transmisi pemikiran IM melalui para alumni lembaga pendidikan di Timur Tengah maupun alumnus LIPIA. Pemikiran tersebut disebarkan melalui forum-forum jaringan dakwah kampus yang telah ada lebih dahulu
Bahwa embrio Gerakan dakwah kampus ini menjadi tonggak utama terbentukanya gerakan dakwah yang didominasi oleh pemikiran IM. Gerakan dakwah kampus bermula dari gerakan dakwah yang dikelola oleh Mahasiswa di Masjid Salman ITB. Kegiatan ini dirintis oleh beberapa Dosen yang berlatar belakang santri seperti, Ir, T.M. Soelaiman, Prof, Drs. Ahmad Sadali, dan adiknya, Ir. Nukman, yang awalnya berupa shalat Jumat, yang menepati ruang kerja seorang guru besar.
Adapun organisasi / partai di Indonesia yang terinspirasi terhadap konsep pemikiran dari Ikhwanul Muslimin antara lain:
1. Partai Masyumi
2. Partai Masyumi Baru (1998)
3. Partai Politik Islam Indonesia Masyumi (1998)
4. Persaudaraan Muslimin Indonesia
5. Partai Bulan Bintang (1998)
6. Partai Keadilan (1998)
7. Ikhwanul Muslimin Indonesia (2001)
Jadi secara umum, Ikhwanul Muslimin cukup banyak memberikan inspirasi pada organisasi / partai di Indonesia. Namun tidak jelas mana yang benar-benar berhubungan secara resmi dengan Ikhwanul Muslimin di Mesir. Wallahu a’lam.









KESIMPULAN

Pembahasan tentang gerakan revivalisme Islam “ Ikhwanul Muslimin” dapat penulis simpulkan bahwa gerakan tersebut merupakan bentuk perlawanan terhadap gerakan sekularisme dan nasionalisme. Ikhwanul Muslimin (IM) merupakan organisasi Islam yang dengan anggota terbesar yang berkembang di berbagai Negara bahkan seluruh dunia. IM didirikan oleh Hasan al-Banna di Ismailiah bersama dengan rekan-rekannya seperti Hafidz Abdul Hamid, Ahmad al-Hushary, Fuad Ibrahim, Ismael Izz, zaki al-maghriby serta Abdurrahman Hasbullah.
Dengan adanya Ikhwanul Muslimin telah memberikan dorongan dan insipirasi bagi munculnya berbagai organisasi Islam termasuk di Indonesia. Pengaruh pemikiran IM ini telah mewarnai organisasi / gerakan dakwah di Indonesia seperti gerakan tarbiyah bahkan sampai pada partai politik Islam di Indonesia.
Oleh karena itu, gerakan yang dilakukan oleh IM itu telah memberikan dampak positif bagi keberlangsungnya kemashalatan umat Islam pada masa itu dan sekarang terlepas dari kontroversi tentang adanya gerakan ini.

DAFTAR PUSTAKA

Al-Bana, Hasan. 2000. Risalah Pergerakan Ikhwanul Muslimin. Terj. Anis Matta, dkk. Solo: Era Intermedia.
Al-Banna, Hasan. Detik-detik Hidupku. Terj. Siri Tarbiyah: Konsis Media
Al-Banna, Hasan. 2004. Memoar Hasan Al-Banna untuk Dakwah dan Para Dainya. Terj. Hawin Murtadho, Salafudin. Surakarta: Era Intermedia.
Hamid, Muhammad Abdul Halim dan Muhammad Abdul al-Khatib. 2004. Konsep Pemikiran Gerakan Ikhwan. Terj. Khozin Abu Faqih. Bandung: PT Syaamil Cipta Media.
Jami’, Mahmud. 2005. Ikhwanul Muslimin yang Saya Kenal. Terj. Munirul Abidin. Jakarta: Pustaka al-Kautsar.
Mahmud, Ali Abdul Halim. Ikhwanul Muslimin Konsep Gerakan Terpadu. Terj. Syafril Halim. Bandung: Gema Insani Press.
Rahmat, Imadadun. 2005. Arus Baru Islam Radikal Transmisi Revivalisme Islam Timur Tengah Ke Indonesia. Pamulang Timur: PT Gelora Aksara Pratama.
http://id.wikipedia.org/wiki/Ikhwanul_Muslimun diakses pada tanggal 15 Juni 2009 A. Latar Belakang Ikhwanul Muslimin
Bermula pada runtuhnya Khilafah Islamiyah di Turki menyebabkan dunia Islam hidup dalam kegelapan dengan timbulnya berbagai gerakan sekularisme maupun gerakan nasionalisme yang mempengaruhi Negara Islam terutama di Mesir. Berbagai bentuk kerusakan moral yang terjadi saat itu antaranya “ Pergerakan Emanspasi Wanita semakin bertambah kuat, para wanita kelas atas Mesir memberontak; enggan memakai purdah. Mereka justru memakai fasion ala Eropa, menghadiri tamasya sosial yang bercampur bebas antara lelaki dan perempuan, baik secara tertutup ataupun terbuka. Mereka juga mendesak supaya wanita diberi hak yang setaraf dengan lelaki.”
Ikhwanul Muslimim berasal dari kata Arab:الاخوان المسلمون al-ikhwān al-muslimūn sering hanya disebut al-Ikhwan adalah salah satu jamaah dari umat Islam, mengajak dan menuntut ditegakkannya syariat Allah, hidup di bawah naungan Islam, seperti yang diturunkan Allah kepada Rasulullah saw, dan diserukan oleh para salafush-shalih, bekerja dengannya dan untuknya, keyakinan yang bersih menghujam dalam sanubari, pemahaman yang benar yang merasuk dalam akal dan fikrah, syariah yang mengatur al-jawarih (anggota tubuh), perilaku dan politik. Ikhwanul Muslimin (IM) didirikan oleh Hasan al-Banna di Ismailiah pada bulan Zulkaidah 1346 H /Maret 1928 M yang di pada kesempatan tersebut terdapat enam tokoh yang tertarik dengan kepribadian dan terkesan pada pola-pola dakwah beliau, mereka adalah Hafidz Abdul Hamid, Ahmad al-Hushary, Fuad Ibrahim, Ismael Izz, zaki al-maghriby serta Abdurrahman Hasbullah.
Proses perkembangan IM di Ismailiah selama empat tahun yang menembus kota di sekitarnya, beberapa faktor yang menyebabkan perkembangan penyebaran dakwah IM menurut Ali Abdullah Halim Mahmud adalah:
1. Mereka ikhlas melaksanakan misi dakwah
2. Mereka memiliki kapasitas pemahaman yang menyeluruh terhadap ajaran islam
3. Pengetahuan mereka sangat luas tidak hanya pengetahuan Agama, tetapi juga pengetahuan umum juga
4. Mereka dalam melakukan aktivitas dengan semangat kebersamaan dan ukhuwah
5. Mereka pula paham tentang kehidupan sosial politik
6. Sistem kehidupan yang mereka terapkan dengan mempraktikkan tata nilai Islami, serta akhlakul karimah
7. Mereka memiliki sikap tegas terhadap politik penjajah


B. Hasan al-Banna dan Ikhwanul
Ikhwanul Muslimin dan Hasan al-Banna tidak dapat dipisahkan gerakan ini sangat berpengaruh, tidak hanya di Mesir akan tetapi menyebar ke seluruh dunia. Siapa sosok Hasan al-Banna?
Hasan al-Banna adalah Imam Syahid Hasan bin Ahmad bin Abdurrahman al-Banna lahir pada tahun 1906 di kota Mahmudiyah, sebuah kawasan dekat Iskandariyah. Adapun Hasan al-Banna memilki 6 saudara yaitu empat lelaki dan dua perempuan, Hasan al-Banna (yang sulung), Abdur-Rahman Al-Banna, Fatimah al-Banna, Muhammad al-Banna, Abdul Basit al-Banna, Jamal al-Banna dan Fauziah al-Banna. Dan ayahnya Syeikh Ahmad Al-Banna mempunyai seorang lagi isteri. Dengan isteri kedua ini, dia memperolehi seorang anak perempuan yang bernama Faridah al-Banna.
Imam Hasan al-Banna memulai pendidikannya di Madrasah Diniyah “ar-Rasyad” yang yang dipimpin oleh Syaikh Muhamad Zahran Rahimahullah. Kemudian ia pindah ke Madrasah I’dadiyah atas permintaan ayahnya yang gurunya antara lain Muhammad Afandi Abdul Khaliq Rahimahullah. Karena sistem Madrasah I’diyah diganti dengan Madrasah Ibtida’iyah, Hasan al-Banna melanjutkan ke Madrasah al-Mu’allimin al-Awwaliyah di Damanhur, untuk menjadi seorang guru. Setelah tamat kemudian beliau melanjutkan ke Darul ‘Ulum al-Ulya’ dan tamat pada tahun 1927 yang menyandang cumlaude.
Bahwasanya Imam Hasan al-Banna menjalani kehidupan yang penuh tantangan semenjak kecil sehingga beliau menemui ajalnya. Keseluruhan hidupnya ditumpukan kepada perjuangan Islam dan kebajikan orang-orang Islam. Beliau khusyu’ beribadat kepada Allah dan selalu mengkaji al-Quran serta Hadith. Tokoh Islam yang hebat ini mati syahid ditembak pada 12hb Februari, 1949 di Kaherah. Umurnya ketika itu ialah 43 tahun.
C. Konsep Pemikiran Ikhwanul Muslimin
Dalam kitab Risalah Ta’lim bahwa Hasan al-Banna (Imam Asy-Syahid) menyatakan ada dua konsep yang ditawarkannya kepada pribadi muslim, yaitu:
1. Rukun-rukun bai’at
Imam asy-Syahid menyatakan bai’at tersebut merupakan bai’at antara seorang prajurit dan panglimanya, karenanya di baris awal risalam ini tertulis kata-kata:” Rukun bai’at kita ada sepuluh, peliharalah!.” Adapun pertama kali Ikhwanul Muslimin berbai’at pada tanggal 5 Rabi’ul Awal 1359 H. Adapun sepuluh rukun bai’at (Muhammad Abdul Halim Hamid,2004:21-193) tersebut yaitu:


a. Al-Fahm
Hasan al-Banna berkata “ yang saya maksud ¬al-Fahm adalah hendaknya Anda yakin bahwa kita adalah fikrah islamiyah yang murni, dan Anda memahmi Islam sebagaimana kami memahaminya dalam batas-batas ushul ‘isyrin (20 prinsip) yang sangat ringkas ini”
b. Al-Ikhlas
Adalah bahwa seorang al-akh hendaknya mengorientasikan perkataan, perbuatan, dan jihadnya hanya kepada Allah mengharap keridhaan-Nya, tanap memperhatikan keuntungan materi, prestise, pangkat, gelar, kemajuan atau kemunduran. Dengan itulah ia menjadi tentara akidah, bukan tentara kepentingan dan hanya mencari kemanfaatan dunia.
c. Al-Amal
Sebagaimana dalam surah at-Taubah:105, Allah swt berfirman:
“Dan Katakanlah: "Bekerjalah kamu, Maka Allah dan rasul-Nya serta orang-orang mukmin akan melihat pekerjaanmu itu, dan kamu akan dikembalikan kepada (Allah) yang mengetahui akan yang ghaib dan yang nyata, lalu diberitakan-Nya kepada kamu apa yang Telah kamu kerjakan.”
Berkata Imam asy-Syahid menjelaskan nilai sebuah amal, adalah bahwa amal merupakan buah dari ilmu dan keikhlasan. Sebuah ilmu tetap akan menjadi cacat dan sangat dangkal, bila tidak dapat mendorong pemiliknya untuk melakukan amal yang positif dan konstruktif.
d. Al-Jihad
Imam as-Syahid berkata al-Jihad adalah “ sebuah kewajiban yang terus berlaku sampai hari kiamat. Inilah yang dimaksud oleh Rasulullah saw,’ Barang siapa mati, sementara ia belum pernah perang dan belum berniat perang, maka ia mati seperti matinya jahiliyah.’
e. At-Tadhiyah
Adalah mengorbankan jiwa, harta, waktu, kehidupan, dan segala-galanya demi mencapai tujuan.
f. Ath-Tha’ah
Melaksanakan perintah dan merealisir dengan serta merta, baik dalam keadaan sulit maupun mudah, saat bersemangat maupun malas. Yang demikian itu karena tahapan dakwah ini ada tiga: ta’rif (pengenalan), takwin (pembentukan), dan tanfidz (pelaksanaan).
g. Ats-Tsabat
Bahwa hendakya seorang al-Akh senantiasa bekerja sebagai mujahid dalam memperjuangkan tujuannya, betapa pun jauh jangkauan dan lama waktunya, samapi bertemu dengan Allah dalam keadaan seperti itu, ia akan mendapatkan salah satu dari dua kebaikan, yaitu (mencapai tujuan) hidup mulia atau mati syahid.
h. At-Tajarrud
Imam as-Syahid berkata yang saya maksud at-Tajarrud adalah kemurnian atau totalitas, bahwa engkau harus tulus pada fikrahmu dan membersihkannya dari prinsip-prinsip lain serta pengaruh orang lain. Sebab ia adalah setinggi-tinggi dan selengkap-lengkap fikrah.
i. Al-Ukhuwah
Bahwa hendaknya berbagai hati dan ruh berpadu dengan ikatan akidah. Akidah adalah ikatan yang paling kokoh dan paling mahal. Ukhuwah merupakan wujud dari keimanan, sedang perpecahan adlah wujud dari kekufuran. Kekuatan yang pertama adalah persatuan, tiada persatuan tanpa cinta kasih, sedangkan cinta kasih yang paling lemah adalah lapang dada dan puncaknya adalah itsar (mengutamakan orang lain dari pada diri sendiri).
j. Ats-Tsiqah
Rasa puasnya seorang jundi (prajurit) atas qa’id (pimpinannya) dalam hal kemampuan dan keikhlasannya, dengan kepuasan mendalam yang dapat menumbuhkan rasa cinta, penghargaan, penghormatan dan ketaatan.

2. Kewajiban individu aktivis
Prinsip ini diberikan oleh Imam asy-Syahid kepada putera-putera Islam yang memiliki ghirah (semangat) terhadap Islam. Kewajiban itu harus dilaksanakan sehingga seorang muslim dapat merasakan manisnya dakwah dan lezatnya tujuan dakwah prinsip tersebut adalah:
• Allahu Ghayatuna (Allah tujuan kami)
• Ar-Rasulu Qudwatuna (Rasul teladan kami)
• Al-Qur’an Syir’atuna (al-Qur’an syariat kami)
• Al-Jihad Sabiluna (Jihad jalam kami)
• Asy-Syahadatu Umniyatuna (mati syahid cita-cita tertinggi kami)
D. Karakteristik Dakwah Ikhwanul Muslimin
Terbentuknya gerakan ini telah memberikan perubahan baru, sebagai dampak dari situasi seperti ini, maka dakwah IM memiliki berbagai karakteristik yang berbeda dengan gerakan-gerakan dakwah yang lain di zamannya, antaranya:
1. Menjauhkan titik khilafiyah
2. Menjauhi dominasi tokoh dan pembesar
3. Menjauhi fanatisme partai-partai dan golongan-golongan
4. Memperhatikan masalah takwin (pembentukan kepribadian), dan tadararju (bertahap) dalam langkahnya
5. Mengutamakan sisi amaliah yang produktif di atas seruan-seruan dan propaganda-propaganda kosong
6. Sangat menaruh perhatian pada pemuda, dan
7. Cepat berkembang di pedesaan dan perkotaan
E. Pimpinan dalam Ikhwanul Muslimin
Pimpinan Ikhwanul Muslimin disebut Mursyid 'Am atau Sekretaris Jenderal. Adapun tugas dari Mursyid 'Am adalah untuk mengatur organisasi Ikhwanul Muslimin di seluruh dunia. Berikut ini adalah daftar Mursyid 'Am yang pernah memimpin Ikhwanul Muslimin:
1. Hassan al-Banna
2. Hassan al-Hudhaibi
3. Umar at-Tilmisani
4. Muhammad Hamid Abu Nasr
5. Mustafa Masyhur
6. Ma'mun al-Hudhaibi
7. Muhammad Mahdi 'Akif
F. Ikhwanul Muslimin di Indonesia
Ikhwanul Muslimin masuk ke Indonesia melalui jamaah haji dan kaum pendatang Arab sekitar tahun 1930. Pada zaman kemerdekaan, Agus Salim pergi ke Mesir dan mencari dukungan kemerdekaan. Waktu itu, Agus Salim menyempatkan untuk bertemu kepada sejumlah delegasi Indonesia, termasuk Agus Salim.
Tahun 1970-an adalah momen munculnya semangat kebangkitan Islam di hampir seluruh dunia Muslim. Bahwa di Indonesia bentuk revivalisme gerakan yang terjadi adalah adanya transmisi dari pemikiran Ikhwanul Muslimin seperti gerakan Tarbiyah.
Mengenai proses penyerapan para aktivis Tarbiyah di Indonesia terhadap pemikiran IM ada dua penjelasan:
1. Bahwa pemikiran Ikhwanul Muslimin terjadi melalui Imaduddin Abdurahim. Ia memperkenalkan Pemikiran IM dalam forum-forum jaringan dakwah kampus.
2. Transmisi pemikiran IM melalui para alumni lembaga pendidikan di Timur Tengah maupun alumnus LIPIA. Pemikiran tersebut disebarkan melalui forum-forum jaringan dakwah kampus yang telah ada lebih dahulu
Bahwa embrio Gerakan dakwah kampus ini menjadi tonggak utama terbentukanya gerakan dakwah yang didominasi oleh pemikiran IM. Gerakan dakwah kampus bermula dari gerakan dakwah yang dikelola oleh Mahasiswa di Masjid Salman ITB. Kegiatan ini dirintis oleh beberapa Dosen yang berlatar belakang santri seperti, Ir, T.M. Soelaiman, Prof, Drs. Ahmad Sadali, dan adiknya, Ir. Nukman, yang awalnya berupa shalat Jumat, yang menepati ruang kerja seorang guru besar.
Adapun organisasi / partai di Indonesia yang terinspirasi terhadap konsep pemikiran dari Ikhwanul Muslimin antara lain:
1. Partai Masyumi
2. Partai Masyumi Baru (1998)
3. Partai Politik Islam Indonesia Masyumi (1998)
4. Persaudaraan Muslimin Indonesia
5. Partai Bulan Bintang (1998)
6. Partai Keadilan (1998)
7. Ikhwanul Muslimin Indonesia (2001)
Jadi secara umum, Ikhwanul Muslimin cukup banyak memberikan inspirasi pada organisasi / partai di Indonesia. Namun tidak jelas mana yang benar-benar berhubungan secara resmi dengan Ikhwanul Muslimin di Mesir. Wallahu a’lam.









KESIMPULAN

Pembahasan tentang gerakan revivalisme Islam “ Ikhwanul Muslimin” dapat penulis simpulkan bahwa gerakan tersebut merupakan bentuk perlawanan terhadap gerakan sekularisme dan nasionalisme. Ikhwanul Muslimin (IM) merupakan organisasi Islam yang dengan anggota terbesar yang berkembang di berbagai Negara bahkan seluruh dunia. IM didirikan oleh Hasan al-Banna di Ismailiah bersama dengan rekan-rekannya seperti Hafidz Abdul Hamid, Ahmad al-Hushary, Fuad Ibrahim, Ismael Izz, zaki al-maghriby serta Abdurrahman Hasbullah.
Dengan adanya Ikhwanul Muslimin telah memberikan dorongan dan insipirasi bagi munculnya berbagai organisasi Islam termasuk di Indonesia. Pengaruh pemikiran IM ini telah mewarnai organisasi / gerakan dakwah di Indonesia seperti gerakan tarbiyah bahkan sampai pada partai politik Islam di Indonesia.
Oleh karena itu, gerakan yang dilakukan oleh IM itu telah memberikan dampak positif bagi keberlangsungnya kemashalatan umat Islam pada masa itu dan sekarang terlepas dari kontroversi tentang adanya gerakan ini.

DAFTAR PUSTAKA

Al-Bana, Hasan. 2000. Risalah Pergerakan Ikhwanul Muslimin. Terj. Anis Matta, dkk. Solo: Era Intermedia.
Al-Banna, Hasan. Detik-detik Hidupku. Terj. Siri Tarbiyah: Konsis Media
Al-Banna, Hasan. 2004. Memoar Hasan Al-Banna untuk Dakwah dan Para Dainya. Terj. Hawin Murtadho, Salafudin. Surakarta: Era Intermedia.
Hamid, Muhammad Abdul Halim dan Muhammad Abdul al-Khatib. 2004. Konsep Pemikiran Gerakan Ikhwan. Terj. Khozin Abu Faqih. Bandung: PT Syaamil Cipta Media.
Jami’, Mahmud. 2005. Ikhwanul Muslimin yang Saya Kenal. Terj. Munirul Abidin. Jakarta: Pustaka al-Kautsar.
Mahmud, Ali Abdul Halim. Ikhwanul Muslimin Konsep Gerakan Terpadu. Terj. Syafril Halim. Bandung: Gema Insani Press.
Rahmat, Imadadun. 2005. Arus Baru Islam Radikal Transmisi Revivalisme Islam Timur Tengah Ke Indonesia. Pamulang Timur: PT Gelora Aksara Pratama.
http://id.wikipedia.org/wiki/Ikhwanul_Muslimun diakses pada tanggal 15 Juni 2009 Selengkapnya...

SEJARAH HIZBUT TAHIR DI KALIMANTAN BARAT

1. LATAR BELAKANG
Hizbut Tahrir (HT) didirikan pada tahun 1952 di Jerusalem berdasarkan doktrin Sistim islam Oleh Tagi al-Din al-Nabhani (1905-1978) atau di Indonesia dikenal dengan Syekh Taqiyyuddin An Nabhani seorang Sufi, hakim pengadilan (Qadi). Di Indonesia dikenalkan oleh syaikh al-Baghadadi lewat kampus-kampus sedangkan Di Kalimantan Barat pertama dikenalkan oleh Ust M. Muslim tahun 2006. Beliau beralamat di jalan Paris 2 No. 9.
Terbentuknya Hizbut Tahrir adalah untuk membangkitkan kembali umat Islam dari kemerosotan yang amat parah, membebaskan umat dari ide-ide, sistem perundang-undangan, dan hukum-hukum kufur, serta membebaskan mereka dari cengkeraman dominasi dan pengaruh negara-negara kafir. Hizbut Tahrir bermaksud juga membangun kembali Daulah Khilafah Islamiyah di muka bumi, sehingga hukum yang diturunkan Allah Swt dapat diberlakukan kembali. Hizbut Tahir di Kalbar berawal dari Ketapang dan terus menyebar sampai di Pontianak. Keberadaan HT di Kalbar ini masih berumur jagung namun tidak dari perkembangan kadernya, menurut Ustd M. Muslim setiap tahun selalu bertambah. Pengkaderan yang dilakukan di kampus maupun di luar yakni berupa halakoh-halakoh kecil. Bahwa keberadaan HT di Kalbar memberikan warna tersendiri dari yang organisasi yang lain, menurut Ust M. Muslim keunikannya adalah “ konsistennya dalam mendalami Islam, kejelasan konsep, organisasi jaringan satu komando”. Adapun kepengurusannya hanya diketahui dari pihak intern jadi tidak di publikasikan ke masyarakat kata Ustd.M.Muslim. untuk keberadaan sekretariatannya kegiatan sering difokuskan di rumah beliau.
2. LAMBANG
Hizbut Tahir merupakan organisasi politik sekaligus harokah dakwah sama seperti yang telah ada. Lambang / bendera yang digunakan HT diambil dari lafadz kalimat Lailaha Illallahu Muhammad Rasulullah. Gerakan ini dengan tegas untuk menerapkan syari’at Islam dan Khilafah Islamiyah.
3. MISI & VISI
Misi & visi HT ini tidak terlepas dari sejarah didirikannya pertama kali. Oleh karena itu menurut penuturan Ustd M. Muslim ia menyatakan “visi kami sebagaimana dalam surah ali-Imran:104”.
1. Pembinaan umat agar beraqidah Islam
2. Menjelaskan ide-ide yang menyimpang
3. Menegakkan syaria’at Islam
4. TUJUAN DAN KEANGGOTANAAN
Tujuan Hizbut Tahrir memiliki dua tujuan: (1) melangsungkan kehidupan Islam; (2) mengemban dakwah Islam ke seluruh penjuru dunia. Tujuan ini berarti mengajak umat Islam agar kembali hidup secara Islami di dâr al-Islam dan di dalam lingkungan masyarakat Islam. Tujuan ini berarti pula menjadikan seluruh aktivitas kehidupan diatur sesuai dengan hukum-hukum syariat serta menjadikan seluruh pandangan hidup dilandaskan pada standar halal dan haram di bawah naungan dawlah Islam. Dawlah ini adalah dawlah-khilâfah yang dipimpin oleh seorang khalifah yang diangkat dan dibaiat oleh umat Islam untuk didengar dan ditaati. Khalifah yang telah diangkat berkewajiban untuk menjalankan pemerintahan berdasarkan Kitabullah dan Sunnah Rasul-Nya serta mengemban risalah Islam ke seluruh penjuru dunia dengan dakwah dan jihad.
Di samping itu, aktivitas Hizbut Tahrir dimaksudkan untuk membangkitkan kembali umat Islam dengan kebangkitan yang benar melalui pemikiran yang tercerahkan. Hizbut Tahrir berusaha untuk mengembalikan posisi umat Islam ke masa kejayaan dan keemasannya, yakni tatkala umat dapat mengambil alih kendali negaranegara dan bangsa-bangsa di dunia ini. Hizbut Tahrir juga berupaya agar umat dapat menjadikan kembali dawlah Islam sebagai negara terkemuka di dunia—sebagaimana yang telah terjadi di masa silam; sebuah negara yang mampu mengendalikan dunia ini sesuai dengan hukum Islam.
Keanggotaan Hizbut Tahrir
Hizbut Tahrir menerima anggota dari kalangan umat Islam, baik pria maupun wanita, tanpa memperhatikan lagi apakah mereka keturunan Arab atau bukan, berkulit putih ataupun hitam. Hizbut Tahrir adalah sebuah partai untuk seluruh umat Islam. Partai ini menyerukan kepada umat untuk mengemban dakwah Islam serta mengambil dan menetapkan seluruh aturan-aturannya tanpa memandang lagi ras-ras kebangsaan, warna kulit, maupun mazhab-mazhab mereka. Hizbut Tahrir melihat semuanya dari pandangan Islam. Para anggota dan aktivis Hizbut Tahrir dipersatukan dan diikat oleh akidah Islam, kematangan mereka dalam penguasaan ide-ide (Islam) yang diemban oleh Hizbut Tahrir, serta komitmen mereka untuk mengadopsi ide-ide dan pendapat-pendapat Hizbut Tahrir.
Mereka sendirilah yang mengharuskan dirinya menjadi anggota Hizbut Tahrir, setelah sebelumnya ia terlibat secara intens dengan Hizb; berinteraksi langsung dengan dakwah bersama Hizb; serta mengadopsi ide-ide dan pendapat-pendapat Hizb. Dengan kata lain, ikatan yang mengikat para anggota dan aktivis Hizbut Tahrir adalah akidah Islam dan tsaqâfah (ide-ide) Hizb yang sepenuhnya diambil dari dari akidah ini. Halaqah-halaqah atau pembinaan wanita di dalam tubuh Hizbut Tahrir terpisah deri halaqah-halaqah pria. Yang memimpin halaqah-halaqah wanita adalah para suami, para muhrimnya, atau sesama wanita.
Sumber:
1. http://id.wikipedia.org/wiki/hizbuttahrir
2. Nara sumber Nama : Ustd.M.Muslim
Ttl : Banjarmasin, 1978
Alamat : Paris 2 No. 9 Selengkapnya...

bisnis online
 
Home | Gallery | Tutorials | Freebies | About Us | Contact Us

Copyright © 2009 ADVENTURE FOR LIFE |Designed by Templatemo |Converted to blogger by BloggerThemes.Net | This template is brought to you by : allblogtools.com | Blogger Templates

Usage Rights

DesignBlog BloggerTheme comes under a Creative Commons License.This template is free of charge to create a personal blog.You can make changes to the templates to suit your needs.But You must keep the footer links Intact.